Media Asuransi, JAKARTA – Lanskap keberlanjutan Indonesia sedang bergeser dari agenda kepatuhan menuju strategi ketahanan ekonomi dan daya saing bisnis. Untuk memetakan pergeseran ini, Bank DBS Indonesia meluncurkan riset ‘The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks‘.
Riset tersebut mengkaji bagaimana perubahan tersebut terjadi di lima sektor strategis, yakni Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur; Teknologi, Media, dan Telekomunikasi; Pangan dan Agribisnis; Kesehatan dan Farmasi; serta Logam dan Pertambangan.
Salah satu temuan utama riset ini menegaskan pendekatan keberlanjutan tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh industri. Kelima sektor menghadapi tekanan untuk bergerak dari pendekatan compliance-driven menuju strategi bisnis inti.
Namun demikian, pemicu, tantangan, dan bentuk solusi yang dibutuhkan berbeda signifikan satu sama lain, sehingga bentuk intervensi financing maupun advisory dari perbankan perlu disesuaikan per sektor.
“Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang,” kata Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin, dikutip dari keterangan resminya, Jumat, 21 Agustus 2026.
|Baca juga: BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dan Kredit hingga Akhir 2026, Begini Caranya!
|Baca juga: Bos BI Beberkan Sejumlah Strategi di Balik Penguatan Rupiah
Ia menambahkan keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor.
“Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” kata Anthonius Sehonamin.
Lebih lanjut, temuan riset menunjukkan besarnya peluang keberlanjutan di suatu sektor tidak serta-merta membuat sebuah proyek mendapatkan pembiayaan. Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah suatu peluang dapat direalisasikan.
Dalam konteks tersebut, peran perbankan tidak berhenti pada penyediaan modal. Perusahaan juga membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kesiapan proyek, menentukan struktur pembiayaan yang sesuai, serta mengidentifikasi solusi yang dapat menjembatani kebutuhan keberlanjutan dengan kelayakan komersial.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
