Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut generasi muda, khususnya generasi z dan milenial, menjadi salah satu fokus pengembangan industri asuransi jiwa seiring meningkatnya kebutuhan untuk memperluas penetrasi perlindungan di Indonesia.
Ketua Departemen Komunikasi AAJI Aldi Rinaldi mengatakan industri saat ini tengah memperkuat riset untuk memahami karakteristik dan kebutuhan setiap generasi. Langkah tersebut dilakukan sebagai dasar dalam merancang produk dan layanan yang lebih relevan bagi calon nasabah muda.
|Baca juga: Bank DBS Indonesia Siap Terus Dampingi Nasabah di Tengah Volatilitas Pasar
|Baca juga: BUKA Genjot Ekspansi di Segmen Mitra, Ritel, Gaming, dan Investasi
Menurut dia, pemetaan profil pemegang polis menjadi penting untuk mengetahui kelompok usia yang masih memiliki potensi besar untuk digarap oleh industri asuransi.
“Di kita tuh sedang ada satu riset yang pemilik polis di kita tuh kebanyakannya di generasi mana sih. Apakah di Gen Z, di Gen Y atau milenial. Apa yang harus kita lakukan saat ini untuk merancang satu produk yang memang lebih sesuai dengan generasinya,” kata Aldi, dalam webinar yang diselenggarakan OJK Institute, Kamis, 25 Juni 2026.
Selain memperkuat riset, industri asuransi juga meningkatkan kegiatan literasi keuangan dan asuransi di lingkungan kampus. Upaya tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya perlindungan asuransi sejak seseorang memasuki usia produktif.
AAJI menilai masih banyak masyarakat yang baru mempertimbangkan memiliki asuransi setelah menghadapi risiko tertentu atau ketika memperoleh fasilitas perlindungan dari tempat bekerja. Padahal, kepemilikan asuransi sejak dini dinilai penting untuk membangun perlindungan keuangan jangka panjang.
View this post on Instagram
Untuk menjangkau generasi muda, perusahaan asuransi juga mulai memperluas kemudahan akses layanan. Salah satunya melalui penyediaan berbagai metode pembayaran premi yang dapat dilakukan secara digital sesuai kebiasaan transaksi generasi saat ini.
|Baca juga: Tugu Insurance (TUGU) Dilibatkan dalam Kajian Danantara soal Merger Asuransi BUMN
|Baca juga: Beban Klaim JKN Melonjak hingga Puluhan Triliun, BPJS Kesehatan Soroti Tren Inflasi Medis
Di sisi distribusi, industri mengembangkan beragam kanal pemasaran, mulai dari agen, perbankan, platform digital, hingga layanan daring. Strategi tersebut ditempuh agar masyarakat dapat memperoleh produk asuransi melalui saluran yang paling sesuai dengan preferensinya.
Selain itu, perusahaan asuransi terus memperluas pilihan produk yang tersedia, mulai dari asuransi jiwa tradisional, asuransi kesehatan, produk dwiguna, hingga produk yang menggabungkan unsur proteksi dan investasi. Variasi tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan perlindungan yang semakin beragam di setiap kelompok usia.
|Baca juga: Beban Klaim JKN Melonjak hingga Puluhan Triliun, BPJS Kesehatan Soroti Tren Inflasi Medis
|Baca juga: BPJS Kesehatan Pastikan Tarif JKN ke Asuransi Tambahan Dibatasi Maksimal 250% dalam Skema KAPJ
“Sekarang mau langsung menemui agen ada, mau menemui nasabah perbankan ada, mau lewat daring ada, mau lewat platform ada. Macam-macam area distribusi yang memang kita kembangkan untuk menjangkau generasi tersebut dan memberikan layanan yang lebih mudah dalam menjangkau produk-produk asuransi yang ada,” tutup Aldi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

