Media Asuransi, JAKARTA – Mantan Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam memprioritaskan perlindungan kesehatan. Masyarakat cenderung mengutamakan pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif daripada mengalokasikan dana untuk membayar premi asuransi.
Ali mencontohkan kebiasaan masyarakat yang tidak keberatan mengeluarkan uang untuk membeli produk kecantikan, menggunakan transportasi, hingga mengganti ponsel. Namun, pengeluaran untuk perlindungan kesehatan justru belum menjadi perhatian utama.
“Banyak orang Indonesia itu beli lipstik oke, transport oke, HP oke, tapi untuk kesehatan tidak oke, apalagi premi asuransi tidak oke,” ujar Ali, dalam paparannya dalam webinar, Selasa, 3 November 2026.
Menurut Ali, kondisi tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan kesehatan masih perlu ditingkatkan. Padahal, risiko kesehatan dapat muncul sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan beban keuangan apabila tidak diantisipasi melalui perlindungan yang memadai.
|Baca juga: Bamsoet: Dugaan Penyadapan Presiden Harus Ditangani Cepat, Objektif, dan Independen
Selain persoalan prioritas pengeluaran, Ali menilai, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai konsep asuransi sosial turut menjadi tantangan. Dia menyebut masyarakat selama ini lebih banyak mengenal asuransi komersial dibandingkan dengan sistem perlindungan sosial yang dijalankan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Yang memiliki pemahaman terhadap perlindungan sosial dan jaminan sosial asuransi sosial itu tidak banyak. Banyaknya masyarakat kita itu yang dia pahami asuransi komersial,” katanya.
Ali menjelaskan BPJS Kesehatan merupakan penyelenggara perlindungan dasar kesehatan masyarakat melalui mekanisme asuransi sosial. Sistem tersebut mengedepankan prinsip gotong royong, yakni peserta yang sehat membantu peserta yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan.
|Baca juga: AIA Resmi Spin Off Bisnis Syariah, Begini Strateginya!
|Baca juga: Eks Dirut BPJS Kesehatan Sebut Indonesia Belum Punya Skema Jaminan Kesehatan Khusus Lansia
Namun, pemahaman mengenai mekanisme tersebut dinilai belum merata. Salah satu contohnya terlihat dari kecenderungan masyarakat yang ingin langsung mendapatkan pelayanan dokter spesialis atau berobat ke rumah sakit ketika sakit, tanpa terlebih dahulu memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Banyaknya masyarakat kita itu yang dia pahami asuransi komersial dan tidak percaya pada layanan primer, maunya itu langsung ke spesialis, langsung ke rumah sakit di situ, sakit gitu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ali menekankan, industri asuransi pada dasarnya tidak hanya menawarkan produk perlindungan, tetapi juga menjual kepercayaan kepada masyarakat. Karena itu, kepercayaan menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat untuk memiliki asuransi. “Padahal asuransi ini yang dijual adalah trust tadi, kepercayaan,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
