1
1

IFG Life: Inklusi Keuangan Harus Diiringi Pemahaman tentang Manfaat Proteksi

Gedung Kantor Pusat IFG Life. | Foto: IFG Life

Media Asuransi, JAKARTA – Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi menegaskan inklusi keuangan perlu dimaknai lebih dari sekadar akses terhadap produk dan layanan keuangan. Dalam hal ini, inklusi keuangan mencakup seberapa banyak masyarakat sudah dijangkau oleh layanan keuangan.

“Bagaimana mereka memahami manfaat produk yang tersedia, dan mampu menentukan kebutuhan perlindungan yang sesuai. Dengan begitu, akses yang sudah terbuka dapat membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih tepat untuk melindungi diri dan keluarga,” ujar Gatot, dalam keterangannya, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut Gatot, tantangan dalam meningkatkan literasi perasuransian tidak berhenti pada pengetahuan mengenai produk, namun juga bagaimana mendorong masyarakat memahami peran proteksi dalam menjaga ketahanan finansial.

“Proteksi bukan pengganti tabungan atau investasi. Perannya membantu menghadapi dampak finansial saat risiko terjadi, sehingga masyarakat tidak harus menguras tabungan, menjual aset, atau mengorbankan tujuan hidup yang direncanakan. Perlindungan perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan sejak dini,” tegas Gatot.

|Baca juga: Bye-bye UMA! BEI Siapkan Jurus Baru Awasi Perdagangan Saham

Akses masyarakat terhadap layanan keuangan terus meluas, namun pemahaman dan pemanfaatannya belum sepenuhnya mengikuti. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS, mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan di 69,57 persen.

|Baca juga: BEI Libatkan Akademisi hingga Sekuritas di Komite Pengawasan Saham HSC

|Baca juga: OJK Respons Pernyataan Dasco soal Indonesia Bisa Tentukan Rating Bursa Sendiri

Selisih ini menunjukkan akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai manfaat dan cara memanfaatkannya. Di sektor perasuransian, kesenjangan tersebut terlihat dari indeks inklusi yang tercatat sebesar 29,55 persen, sementara indeks literasi perasuransian mencapai 42,84 persen.

Angka ini menunjukkan pemahaman masyarakat mengenai asuransi belum sepenuhnya tercermin dalam kepemilikan produk perlindungan. Padahal, proteksi merupakan salah satu bagian penting dalam perencanaan keuangan untuk mengantisipasi risiko yang dapat memengaruhi kondisi finansial.

Kesenjangan antara pengetahuan dan kepemilikan produk juga terlihat pada generasi muda. Survei literasi keuangan IFG Progress terhadap responden berusia 18–25 tahun yang mayoritas merupakan mahasiswa menunjukkan 96 persen responden mengetahui produk tabungan dan 94 persen telah memilikinya.

Sebaliknya, hanya 34,5 persen responden yang mengetahui produk tersebut dan sembilan persen yang memilikinya. Padahal, risiko seperti sakit, kecelakaan, kehilangan penghasilan, hingga meninggal dunia dapat memengaruhi stabilitas keuangan keluarga.

Tanpa persiapan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi menggerus tabungan dan mengganggu tujuan jangka panjang, seperti membiayai pendidikan anak, menjaga kesehatan keluarga, hingga mempersiapkan masa pensiun.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bye-bye UMA! BEI Siapkan Jurus Baru Awasi Perdagangan Saham
Next Post IHSG Terkoreksi Teknikal di Sesi I

Member Login

or