1
1

Industri Asuransi Diminta Waspadai Risiko Penyebaran Ebola dan Hantavirus

Ilustrasi. | Foto: Freepik/jcomp

Media Asuransi, GLOBAL – Wabah virus Ebola dan Andes hantavirus mendorong industri asuransi global untuk mengevaluasi ulang perlindungan terhadap penyakit menular langka di tengah meningkatnya risiko kesehatan global.

Melansir Insurance Asia, Jumat, 29 Mei 2026, lembaga pemeringkat kredit AM Best menyebutkan lonjakan kasus Ebola dan penyebaran Andes hantavirus memang belum berada pada level ancaman global seperti pandemi covid-19.

|Baca juga: OJK Ungkap Fenomena Aktuaris Pindah-pindah Perusahaan Masih Terjadi

|Baca juga: Danamon (BDMN), Adira Finance (ADMF), dan MUFG Kembali Hadir di IIMS Surabaya 2026

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan peningkatan kasus dan angka kematian Ebola berpotensi memicu wabah yang lebih besar. AM Best menilai perusahaan asuransi saat ini relatif siap menghadapi dampak finansial langsung dari wabah tersebut.

Kesiapan itu ditopang oleh peningkatan investasi di bidang layanan kesehatan digital, telehealth, serta pembaruan proses underwriting sejak pandemi Covid-19. Selain itu, perusahaan asuransi juga memperbaiki kontrak polis guna mengurangi ambiguitas perlindungan dan menutup celah risiko sistemik yang sebelumnya muncul selama pandemi.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Meski demikian, AM Best mengingatkan krisis kesehatan baru tetap dapat memperlambat ekonomi global, terutama ketika konflik geopolitik di berbagai kawasan masih memicu kekhawatiran resesi dunia. Risiko dinilai semakin besar bagi wilayah yang bergantung pada sektor pariwisata maupun negara-negara dengan tekanan fiskal tinggi.

Di sisi lain, pasar asuransi kesehatan individu di kawasan Asia Pasifik diramal terus tumbuh hingga 2030. Riset Grand View Research memperkirakan industri tersebut mencatat pertumbuhan tahunan majemuk 5,91 persen, didorong naiknya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan kesehatan pascapandemi dan kenaikan biaya medis.

|Baca juga: Perang AS-Iran Tekan Bisnis Reasuransi, Premi Turun 1,43% per Maret 2026

|Baca juga: OJK Pelototi Dampak PHK terhadap Klaim Asuransi Jiwa Kredit

Nilai industri asuransi kesehatan individu Asia Pasifik tercatat mencapai US$1,63 triliun pada 2022. Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap produk perlindungan kesehatan komprehensif setelah pandemi covid-19.

Survei Max Bupa Insurance menunjukkan jumlah masyarakat yang membeli perlindungan kesehatan komprehensif meningkat signifikan dibandingkan periode sebelum pandemi. AM Best menilai mobilitas global yang semakin tinggi membuat penyebaran penyakit lintas negara menjadi lebih sulit dikendalikan tanpa koordinasi internasional.

Karena itu, perusahaan asuransi disarankan rutin melakukan stress test terhadap portofolio guna mengantisipasi risiko tak terduga yang belum tercermin dalam model risiko konvensional.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Rupiah Tembus Rp17.880, BI: Dipengaruhi Berlanjutnya Konflik di Timur Tengah
Next Post IHSG Ditutup Melemah di Akhir Pekan

Member Login

or