Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menjelaskan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Adapun mata uang Garuda terpantau terus melemah, bahkan kini menembus level Rp17.880 per US$.
“Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso, dalam pernyataan resminya, Jumat, 29 Mei 2026.
|Baca juga: OJK Ungkap Fenomena Aktuaris Pindah-pindah Perusahaan Masih Terjadi
|Baca juga: Danamon (BDMN), Adira Finance (ADMF), dan MUFG Kembali Hadir di IIMS Surabaya 2026
Sebagaimana disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada kesempatan sebelumnya, lanjutnya, BI terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, around the world, dan around the clock.
“Komitmen tersebut diwujudkan melalui mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur,” tukasnya.
|Baca juga: Perang AS-Iran Tekan Bisnis Reasuransi, Premi Turun 1,43% per Maret 2026
|Baca juga: OJK Pelototi Dampak PHK terhadap Klaim Asuransi Jiwa Kredit
Selain itu, tambahnya, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
View this post on Instagram
Dari sisi permintaan dolar AS, masih kata Ramdan, Bank Indonesia juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$25 ribu per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.
|Baca juga: Wamenkeu Tegaskan Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Tidak Seperti Krisis 1998
|Baca juga: Wamenkeu Beberkan Sejumlah Masalah Utama Penghambat Ekonomi Daerah
Ia menambahkan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

