Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Penilai Kerugian Asuransi Indonesia (APKAI) Rio Darante memperkirakan tekanan terhadap industri asuransi nasional masih akan berlangsung setidaknya hingga 2027.
Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penerapan standar pelaporan keuangan, penguatan modal, hingga situasi ekonomi global yang belum stabil. Menurut dia, sejumlah perusahaan asuransi juga masih menghadapi tantangan untuk memenuhi ketentuan permodalan yang akan berlaku pada awal 2028.
|Baca juga: Perkuat Ekonomi Kerakyatan, BI Luncurkan 4 Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu
|Baca juga: Chandra Asri Group Buka Suara tentang Kepemilikan Saham Prodia (PRDA)
Di saat bersamaan, beban klaim dinilai semakin meningkat dari sisi nilai sehingga turut menekan arus kas industri. “Di mana kita tahu ada beberapa asuransi yang tidak bisa memenuhi itu. Mungkin kalau saat ini mayoritas belum bisa memenuhi. Sedangkan sepertinya loss ratio lagi naik,” kata Rio, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 23 Juni 2026.
Dia mengatakan tekanan terhadap industri tidak hanya berasal dari dalam negeri. Konflik geopolitik dan pergerakan nilai tukar dolar AS juga membuat hasil investasi perusahaan asuransi ikut terdampak.
View this post on Instagram
Rio menilai kondisi tersebut membuat proses penanganan klaim menjadi semakin kompleks. Pelaku industri juga harus menghadapi ketidakseimbangan arus kas sambil menjaga keberlangsungan bisnis.
“Ini perkiraan ya sampai 2026-2027 ini berat tekanannya. Menangani klaim ini makin sulit ya, makin panjang. Kita juga harus bertahan dengan cash flow yang tidak balance,” katanya.
|Baca juga: Banggar dan Pemerintah Sepakati RAPBN 2027, Ekonomi Ditargetkan Tumbuh 6,5%
|Baca juga: FWD Insurance Tunjuk Direktur Kepatuhan dan Chief of Risk Baru
Dirinya menambahkan pertumbuhan premi industri yang masih terbatas turut memengaruhi laju bisnis para pelaku jasa penunjang asuransi. Sebab, aktivitas usaha mereka sangat bergantung pada pertumbuhan sektor asuransi secara keseluruhan.
Meski demikian, dia berharap, situasi ekonomi dan kondisi global dapat membaik sehingga industri asuransi kembali mendapatkan momentum pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
|Baca juga: LPS Wanti-wanti Ancaman AI Colonialism di Industri Keuangan, Apa Itu?
|Baca juga: Kenapa Gen Z Belum Kepincut Asuransi? Begini Penjelasan dari LPS
“Optimistis apa nggak ya makanya saya bilang saya butuh waktu sampai 2027 lah ya. Kasih waktu lah pemerintah juga lagi berat ya kan. Kalau kita bilang setelah 2026 take off kayaknya nggak berani gitu ya,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

