Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan menyoroti masih derasnya aliran premi reasuransi ke luar negeri. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh menurunnya kepercayaan terhadap industri asuransi domestik hingga persoalan kapasitas permodalan perusahaan reasuransi nasional.
Budi mengatakan persoalan itu menjadi pekerjaan rumah besar bagi industri perasuransian nasional. Apalagi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya mengungkap masih ada sekitar 34,98 persen premi reasuransi yang ditempatkan ke luar negeri selama di 2025.
|Baca juga: Chief Economist Permata Bank Soroti Risiko Global terhadap Pasar Keuangan RI
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
“Ya kalau faktor sudah saya sampaikan salah satunya kan kepercayaan terhadap industri asuransi dalam negeri ya, yang menurun. Kedua juga kekuatan permodalan di perusahaan reasuransi dalam negeri yang memang saat ini menjadi PR bersama,” ujar Budi, kepada Media Asuransi, dikutip Senin, 18 Mei 2026.
Menurut dia persoalan permodalan pada akhirnya berdampak terhadap kecepatan penyelesaian klaim. Ia membandingkan proses klaim reasuransi luar negeri yang dinilai lebih cepat dibandingkan dengan perusahaan dalam negeri.
“Kalau luar negeri kan rata-rata bisa diselesaikan dalam waktu yang mungkin kurang dari 30 hari setelah waktu setelah ada kesepakatan. Di dalam negeri kan bisa lebih dari 30 hari, 60 hari, ada yang 90 hari sehingga itu kan juga memengaruhi dia punya admitted aset apalagi dengan implementasi PSAK 117,” katanya.
|Baca juga: Prudential Syariah Cetak Kinerja Ciamik di 2025
|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang Ekonomi Indonesia
Lebih lanjut, AAUI mendorong pembentukan konsorsium dalam negeri guna memperbesar kapasitas reasuransi nasional. Menurut Budi, masih banyak risiko yang sebenarnya dapat ditangani oleh kapasitas reasuransi domestik sehingga langkah tersebut diharapkan mampu menekan laju capital flight premi reasuransi ke luar negeri.
Di sisi lain, Budi mengungkap, industri reasuransi global mulai bersiap menghadapi potensi hardening market di tengah ketidakpastian geopolitik dunia. Ia menyebut sejumlah pemain reasuransi besar dunia mulai mengambil ancang-ancang.
“Dari beberapa pembicaraan saya dengan teman-teman pemain besar reasuransi seperti Swiss Re, Munich Re ya mereka sudah ambil ancang-ancang,” ujar dia.
|Baca juga: KUPASI Nilai QR Code Pialang Asuransi Bisa Dongkrak Kepercayaan Publik
|Baca juga: Bos Allianz Indonesia: Inovasi Produk dan Penguatan Kolaborasi Pemicu Premi Tetap Tumbuh di Kuartal I/2026
Menurut Budi, kondisi hardening sangat dipengaruhi oleh hukum suplai dan permintaan di industri reasuransi global. Ia menilai situasi perang dan ketidakpastian ekonomi membuat pelaku reasuransi lebih berhati-hati menjaga kapasitas bisnisnya.
“Ancang-ancang dalam arti bukan apa, tahun lalu dengan kondisi soft market pun mereka sudah mengalami satu penurunan revenue dalam kondisi soft market gitu. Apalagi dengan situasi yang ini ya mereka juga berpikir ya suplai dan permintaan,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

