Media Asuransi, JAKARTA — Sebuah pabrik tidak dapat meningkatkan produksi jika pasokan listriknya terganggu. Ruang penyimpanan ikan membutuhkan pendinginan yang stabil agar hasil tangkapan tidak cepat rusak. Sementara itu, petani memerlukan energi untuk menggerakkan pompa air, mengelola irigasi, hingga mengolah hasil panen.
Di balik beragam aktivitas tersebut, listrik bukan sekadar penerang, melainkan fondasi produktivitas dan daya saing ekonomi. Tidak ditampik, tantangan Indonesia kini bukan hanya memastikan listrik tersedia, tetapi juga menghadirkan pasokan yang andal, kompetitif, dan semakin bersih.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan listrik andal dan kompetitif merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan industri dan perekonomian. Dalam hal ini, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), lanjutnya, perlu dilakukan dengan memperhitungkan manfaat ekonomi, termasuk dampaknya terhadap harga listrik bagi dunia usaha.
Listrik jadi daya ungkit industri
Kebutuhan listrik diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, elektrifikasi, dan berkembangnya industri berbasis teknologi. Kondisi tersebut mau tidak mau bakal menuntut sistem ketenagalistrikan yang semakin fleksibel, efisien, andal, dan adaptif.
|Baca juga: MSIG Life (LIFE) Kejar Free Float 15%, Masih Kaji Sejumlah Opsi
|Baca juga: Dukung Perekonomian Nasional, BCA (BBCA) Komitmen Salurkan Kredit ke Berbagai Sektor Ekonomi
Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menekankan pentingnya kolaborasi dengan mitra industri dan penyedia teknologi untuk membangun sistem ketenagalistrikan yang andal, efisien, fleksibel, dan berkelanjutan.
Tri menjelaskan kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan industri, elektrifikasi, serta meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan. Kondisi tersebut menuntut sistem ketenagalistrikan yang semakin fleksibel, efisien, andal, dan adaptif.
Dalam jangka panjang, total kapasitas pembangkit listrik terpasang Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 443 gigawatt (GW) pada 2060. Proyeksi tersebut didukung oleh peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, penyimpanan energi, serta teknologi rendah emisi.
Pengembangan kapasitas pembangkit tersebut akan didukung melalui percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Selain itu, pemanfaatan Battery Energy Storage System (BESS), pumped storage, Carbon Capture and Storage (CCS), serta teknologi energi baru lainnya juga menjadi bagian dari pengembangan sistem ketenagalistrikan ke depan.
“Pembangkit listrik berbasis gas akan tetap memainkan peran penting dalam menjaga fleksibilitas sistem ketenagalistrikan, sejalan dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional atau RUKN,” ujarnya.
Lebih lanjut, keandalan tersebut semakin strategis ketika Indonesia mendorong hilirisasi. Adapun industri pengolahan mineral, fasilitas produksi baterai kendaraan listrik, hingga pusat data membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan dengan kualitas yang terjaga.
Pada 8 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan ekspor perdana baterai kendaraan listrik sekaligus meluncurkan program hilirisasi US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun mencakup 11 proyek industri. Agenda ini menunjukkan besarnya peluang penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan kebutuhan akan infrastruktur energi yang siap menopangnya. “Hilirisasi yang kita jalankan adalah bagian dari pembangunan bangsa yang membutuhkan perjalanan panjang. Ekspor perdana baterai listrik ini menjadi bukti nyata arah kebijakan hilirisasi nasional berada di jalur yang benar,” tegasnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani melaporkan realisasi investasi nasional pada semester I/2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan, dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
|Baca juga: Laba MSIG Life Melonjak 69% Jadi Rp181 Miliar di Semester I/2026
|Baca juga: Optimalkan Bisnis, Citi Dapat Izin Sekuritas Penuh di Negeri Tirai Bambu
Sementara kontribusi hilirisasi terhadap total investasi nasional naik dari 25 persen menjadi 30 persen dalam dua tahun terakhir, dengan lebih dari 75 persen lokasinya berada di luar Pulau Jawa.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I/2026. Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan pangsa 18,50 persen.
Sementara industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen dan memberikan kontribusi sebesar 16,83 persen terhadap PDB nasional. Angka tersebut menegaskan pentingnya menjaga daya saing industri melalui dukungan infrastruktur, termasuk pasokan listrik yang memadai dan efisien.
“Jadi ini yang tentu kita melihat peran daripada pengembangan industri ataupun ekonomi selanjutnya itu menjadi kunci karena kita sedang mendorong bahwa nilai tambah daripada sumber daya alam itu menjadi penting, dan sumber daya alam itu ada dua jenis, satu yang renewable dan yang kedua yang non-renewable,” kata Airlangga.
Energi hijau jadi tiket menuju pasar masa depan
Di tengah perubahan standar bisnis global, ketersediaan listrik saja tidak cukup. Industri menghadapi tuntutan untuk menekan emisi dan membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Energi terbarukan berpotensi jadi keunggulan kompetitif bagi perusahaan yang ingin memperkuat posisi di pasar ekspor maupun menarik investasi baru.
Menteri ESDM sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut kebutuhan listrik untuk pusat data menjadi salah satu tantangan baru. Pada 19 Oktober 2026, ia menyampaikan, pengembangan pusat data Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW).
Kebutuhan tersebut setara 20 persen dari total kapasitas listrik saat ini. Bahlil menyatakan kesiapan pasokan energi, terutama energi bersih, menjadi kunci agar Indonesia mampu menarik investasi pusat data berskala regional. Kebutuhan itu terus meningkat seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI).
Jika pusat data pada era komputasi awan membutuhkan daya sekitar 10-30 megawatt (MW), pusat data berbasis AI dapat membutuhkan daya 100 MW hingga 1 GW. Ketersediaan listrik, air, jaringan serat optik, dan kesiapan lokasi menjadi penentu utama realisasi investasi.
“Tadi saya baru habis berbincang sama Dirut PLN, itu membutuhkan penambahan 20 GW. 20 GW ini sama dengan 20.000 MW. Itu sama dengan 20 persen dari total listrik yang existing sekarang. Ini enggak sedikit, cukup besar sekali,” ujar Bahlil.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah mendorong Batam, Karimun, dan Bintan menjadi hub baru pusat data Indonesia, melengkapi hub yang sudah ada di Malaysia dan Singapura. Bahlil menilai kawasan itu memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan air, kepadatan penduduk yang lebih rendah, serta peluang pemanfaatan EBT.
“Kita akan membangun sekarang PLTS kurang lebih sekitar 100 gigawatt-peak. Dan saya punya keyakinan, teman-teman investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan. Dan ini sebuah peluang bisnis,” kata Bahlil.
Sedangkan bagi PLN, tantangan ini menuntut pembangunan sistem kelistrikan yang mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan sekaligus mengintegrasikan energi terbarukan. Penguatan jaringan, teknologi sistem tenaga, dan koordinasi dengan industri menjadi bagian penting agar transisi energi tidak mengorbankan keandalan pasokan.
Tantangan baru bagi PLN
Di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi serta kebutuhan energi yang maksimal, pada 14 Oktober 2026, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT PLN (Persero) mengambil keputusan besar dengan menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN menggantikan Darmawan Prasodjo.
Pergantian kepemimpinan ini berlangsung ketika PLN harus menjaga kesinambungan transformasi sekaligus menjawab kebutuhan listrik yang terus berkembang. Tantangan ini perlu dijawab dengan baik karena ada kaitannya terhadap daya saing industri, pertumbuhan ekonomi, hingga memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap energi.
PLN menyatakan agenda di bawah kepemimpinan Suroso mencakup penguatan keandalan sistem kelistrikan, pembangunan infrastruktur, pengembangan energi baru terbarukan, dan peningkatan layanan pelanggan.
Tantangannya adalah menerjemahkan agenda tersebut menjadi pasokan yang lebih andal dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Sebelum menjadi dirut, Suroso menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN.
|Baca juga: MSCI Bikin Pasar Saham RI Bergejolak, Ini Strategi Investasi MSIG Life
|Baca juga: OJK Ungkap Literasi Keuangan Pelajar RI Masih Tertinggal dari Nasional
Pengalaman tersebut relevan ketika perusahaan harus mempercepat pembangunan pembangkit dan jaringan, sekaligus memastikan integrasi energi terbarukan tidak mengganggu keandalan sistem. Terlepas dari itu semua, pekerjaan rumahnya tidak ringan.
Pasalnya, proyek pembangkit membutuhkan proses perencanaan, pengadaan, perizinan, kesiapan lahan, dan dukungan jaringan transmisi. Sementara itu, pembangkit energi surya dan angin memiliki produksi yang dipengaruhi kondisi alam sehingga membutuhkan jaringan yang lebih fleksibel dan teknologi penyimpanan energi.
Kendati demikian, Manajemen PLN menegaskan, penetapan Suroso menjadi bos baru PLN menjadi bagian dari estafet kepemimpinan untuk melanjutkan agenda transformasi PLN, mencakup penguatan keandalan sistem, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, pengembangan energi baru terbarukan, dan peningkatan layanan pelanggan.
Jaga kinerja tetap solid
Di balik sejumlah tantangan yang menghadang terutama di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, PLN terpantau mampu menjaga kinerja perusahaan yang solid pada semester I/2026.
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp327,15 triliun atau tumbuh 16,05 persen dibandingkan dengan semester I/2025 sebesar Rp281,89 triliun. Pertumbuhan pendapatan tersebut mengantarkan perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp26,17 triliun pada semester I/2026.
Manajemen PLN mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah Pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional di tengah dinamika geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global.
Adapun PLN mencatat penjualan tenaga listrik sebesar 162,26 terawatt hour (TWh) atau tumbuh 4,26 persen selama semester I/2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan tenaga listrik tersebut ditopang oleh kinerja positif di seluruh segmen pelanggan.
Segmen rumah tangga membukukan penjualan sebesar 69,01 TWh hingga Juni 2026, atau tumbuh 1,92 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 67,72 TWh. Segmen bisnis mencatat penjualan sebesar 32,03 TWh hingga Juni 2026, atau tumbuh 6,97 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 29,94 TWh.
Segmen industri membukukan penjualan 47,16 TWh atau tumbuh 3,14 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar 45,73 TWh. Sedangkan pada semester I 2026, PLN mencatatkan jumlah pelanggan sebanyak 97,98 juta pelanggan, atau bertambah 3,58 juta pelanggan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
|Baca juga: Transformasi Layanan Pupuk dan Peranan Asuransi Menjaga Ketahanan Petani
|Baca juga: Kredit BCA (BBCA) Tembus Rp1.063 Triliun per September 2026, Naik 12,6%
PLN juga mencatatkan daya tersambung pada semester I/2026 sebesar 198.769 megavolt ampere (MVA), atau bertambah 6.148 MVA dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski kinerja cukup cemerlang namun ke depan tantangan sektor ketenagalistrikan akan semakin kompleks.
Manajemen PLN menjelaskan selain menghadapi dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, PLN juga harus terus beradaptasi terhadap berbagai dampak perubahan iklim yang dapat memengaruhi penyelenggaraan sistem ketenagalistrikan, termasuk meningkatnya risiko gangguan akibat cuaca ekstrem.
“Karena itu, PLN akan terus memperkuat transformasi, meningkatkan ketangguhan sistem kelistrikan, memperkuat kapabilitas organisasi, serta menjaga keandalan pasokan listrik guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Manajemen PLN.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

