1
1

Data Ekonomi dan Pertemuan Desember Jadi Fokus Berikutnya bagi Investor Kripto

Ilustrasi perdagangan kripto. | Foto: Tokocrypto

Media Asuransi, JAKARTA – Respons pasar setelah pengumuman Bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed), mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026, menunjukkan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga belum otomatis mendorong penguatan aset berisiko.

Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, berdasarkan internal pasar FLOQ pada 29 Oktober, Bitcoin sempat bergerak di sekitar US$80.600 setelah pengumuman tersebut, namun terjun hingga rentang US$80.000-US$79.700. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu juga masih menghadapi tekanan dalam periode mingguan dan bulanan.

“Pergerakan tersebut mencerminkan bagaimana pasar tidak hanya merespons keputusan suku bunga, tetapi juga mempertimbangkan prospek kebijakan moneter berikutnya, kondisi geopolitik, serta perkembangan ekonomi AS,” kata Yudho dalam keterangan resmi.

|Baca juga: Pasar Kripto Syariah di Indonesia Memiliki Potensi Besar

Dia tegaskan bahwa di tengah situasi tersebut, investor juga perlu memperhatikan perubahan ekspektasi pasar terhadap pertemuan FOMC berikutnya. Data pasar prediksi Polymarket yang dipantau pada 29 Oktober menunjukkan probabilitas sekitar 77 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pertemuan Desember, dibandingkan sekitar 20 persen untuk mempertahankan suku bunga. Angka ini merupakan ekspektasi pasar yang dapat berubah sewaktu-waktu, bukan kepastian keputusan The Fed.

Setelah keputusan Oktober, perhatian pasar akan beralih pada data ekonomi AS yang dirilis menjelang pertemuan FOMC berikutnya pada 8–9 Desember 2026. Perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi, dan pasar tenaga kerja akan menjadi sejumlah indikator penting untuk menilai apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan level saat ini.

|Baca juga: Bitcoin Makin Diminati di Indonesia, Investor Kripto Kembali Ramai Bertransaksi

The Fed mencatat peningkatan penilaiannya terhadap pertumbuhan ekonomi dari solid menjadi kuat. Di sisi lain, dua pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober memperlihatkan bahwa opsi pengetatan lebih lanjut masih terbuka.

Yudho mengingatkan, investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu keputusan FOMC atau pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek. Memahami keterkaitan antara inflasi, suku bunga, likuiditas, dan sentimen pasar menjadi bagian penting dalam membaca dinamika aset kripto.

“Ke depan, pasar akan semakin bergantung pada data dan bukan semata-mata pada ekspektasi pemangkasan suku bunga. Investor perlu menyiapkan beberapa skenario, baik ketika inflasi mulai mereda maupun ketika tekanan harga bertahan lebih lama. Pendekatan yang disiplin, pengelolaan risiko, dan pemahaman terhadap karakteristik setiap aset tetap penting di tengah ketidakpastian ini,” ungkapnya.

Dia mengimbau masyarakat untuk memahami risiko investasi aset digital, melakukan riset secara mandiri, serta mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, pergerakan harga aset kripto dapat berlangsung cepat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi global.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Acuan Investasi Saham Berbasis Komoditas!

Member Login

or