Media Asuransi, JAKARTA – PT Buana Finance Tbk (BBLD) mengaku akan semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan pada semester II/2026 di tengah ketidakpastian global dan tekanan ekonomi domestik.
Perseroan mulai memperketat proses penilaian debitur guna menjaga kualitas aset dan mengantisipasi potensi kenaikan pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF).
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026
Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana mengatakan strategi kehati-hatian dilakukan sejak tahap awal pengajuan pembiayaan. Perusahaan kini lebih fokus menilai kapasitas dan rekam jejak mitra usaha sebelum fasilitas pembiayaan diberikan.
“Kalau untuk masalah strategi memang kami melakukan secara sangat hati-hati dalam pemilihan atau pun pemberian fasilitas. Tentunya harus terukur dengan kapasitas daripada mitra-mitra kami,” ujar Herman, dalam Public Expose, Senin, 18 Mei 2026.
Menurut dia, Buana Finance melakukan penilaian menyeluruh terhadap calon debitur, mulai dari rekam jejak perusahaan, nilai kontrak yang diperoleh, profil project owner, hingga usia dan perkembangan perusahaan.
|Baca juga: Allianz Yakin PDB Global Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian
|Baca juga: Allianz Life Indonesia Sebut Kecerdasan Buatan Tampil sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Perseroan juga melakukan pengecekan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), perusahaan pembiayaan lain, hingga jaringan supplier yang menjadi mitra perusahaan.
Selain menyeleksi debitur, Buana Finance mulai memilah sektor industri yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Herman mencontohkan sektor batu bara yang masih tetap dipertimbangkan perusahaan, namun dengan pengawasan ketat terhadap kemampuan finansial dan margin usaha perusahaan yang mengajukan pembiayaan.
View this post on Instagram
Perseroan, kata dia, tidak hanya melihat kontrak yang dimiliki debitur, tetapi juga memperhitungkan biaya produksi, tingkat keuntungan, hingga kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran kepada Buana Finance. Penilaian tersebut dilakukan melalui analisis laporan keuangan dan rekening koran calon debitur.
|Baca juga: OJK Minta Penguatan Keamanan Siber di Industri Asuransi Tidak Dianggap Sepele
|Baca juga: Hantavirus Hantui Indonesia, Bos AAUI: Orang Indonesia Tidak Tipikal Panic Buying Proteksi
“Kami juga pilah-pilah industrinya. Tentunya yang memang tidak mempunyai risiko tinggi. Jadi memang kami melakukan seleksi,” kata Herman.
Untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan, Buana Finance menerapkan pembatasan Loan to Value (LTV) dan menjaga nilai jaminan melalui skema security deposit. Langkah tersebut dilakukan agar risiko penurunan kualitas aset dapat diminimalkan sejak awal proses pembiayaan.
Sementara pada pembiayaan konsumen, perseroan memperketat survei terhadap calon debitur dengan menilai tujuan penggunaan dana, kemampuan membayar cicilan, hingga sumber pendapatan nasabah. Proses monitoring juga dilakukan secara harian melalui pengawasan collection dan evaluasi berkala mingguan maupun bulanan.
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI
|Baca juga: Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri
Herman menilai proses awal menjadi faktor paling krusial dalam menentukan kualitas pembiayaan ke depan. Karena itu, perusahaan tidak hanya mengandalkan digitalisasi, tetapi juga tetap melakukan survei lapangan dan verifikasi langsung terhadap data calon debitur maupun sektor usaha yang dibiayai.
“Nah ini yang memang kami lakukan, tapi yang paling penting adalah proses di awal harus benar. Itulah yang memang menjadi cikal bakal apakah ini akan bermasalah atau tidak,” tutup Herman.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

