Media Asuransi, JAKARTA – HSBC Global Research menilai pasar modal Indonesia masih memiliki fondasi kuat untuk mempertahankan statusnya dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hal itu diyakini terjadi meski dihadapkan pada sejumlah tekanan teknis dalam jangka pendek.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde mengatakan kekhawatiran terkait potensi penurunan status Indonesia dari emerging market ke frontier market bukan menjadi skenario utama saat ini.
|Baca juga: Inilah Peraih CEO Award 2026 Media Asuransi
|Baca juga: Inilah Para Pemenang Unitlink Award 2026 Media Asuransi
“Saya tidak percaya hal itu akan terjadi. Saya rasa regulator melakukan apa yang mereka bisa untuk menjaga Indonesia tetap dalam indeks emerging market ini,” ujarnya, dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis, 23 April 2026.
Menurut Herald, perhatian investor saat ini lebih banyak tertuju pada faktor teknis, khususnya terkait peningkatan porsi saham publik atau free float. Ia menjelaskan sejumlah emiten di Indonesia masih perlu memenuhi ambang batas free float sebesar 15 persen agar sesuai dengan standar indeks global.
Kondisi tersebut, kata dia, menuntut aksi korporasi dari pemegang saham pengendali, baik melalui penjualan saham maupun penerbitan saham baru. Nilainya pun diperkirakan tidak kecil.
|Baca juga: BI Catat Transaksi Digital Tembus 14,39 Miliar, Pengguna QRIS Melonjak 111,94%
|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Respons Rencana OJK terkait Penyesuaian RBB
“Bagi beberapa perusahaan besar, itu berarti para pemilik/pengendali perlu menjual saham mereka, atau mereka perlu melakukan right issue dan hal semacamnya. Ini bisa sangat substansial, setidaknya (nilainya) beberapa miliar dolar AS,” katanya.
Herald menambahkan peningkatan pasokan saham dalam jumlah besar berpotensi menekan harga saham dalam jangka pendek. Pasar membutuhkan waktu untuk menyerap tambahan suplai tersebut, sehingga investor cenderung meminta valuasi yang lebih menarik.
“Dalam jangka pendek, itu berarti ada sedikit beban bagi ekuitas Indonesia. Jadi, kami sedikit berhati-hati dan memberikan bobot kurang (underweight) pada ekuitas Indonesia dalam konteks Asia saat ini,” ucapnya.
|Baca juga: Bos BI: Kebijakan Moneter Terus Diperkuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah
|Baca juga: BBM Nonsubsidi Naik, BI Bilang Begini tentang Dampaknya ke Inflasi
Meski demikian, ia menilai, peningkatan free float justru menjadi katalis positif dalam jangka panjang. Likuiditas pasar yang lebih baik dinilai dapat memperkuat struktur pasar modal dan membuka peluang pendanaan yang lebih luas bagi perusahaan.
“Ini berarti Anda memiliki pasar saham yang berfungsi lebih baik, di mana saya berharap lebih banyak perusahaan mencatatkan saham dan mencari modal dari sana,” pungkas Herald.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
