Media Asuransi, JAKARTA – Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas inflasi pada kuartal I/2026 di tengah tekanan global. Namun, risiko kenaikan harga energi dunia tetap menjadi faktor utama yang perlu diantisipasi pada periode berikutnya.
HSBC Global Investment Research memproyeksikan inflasi Indonesia masih dapat dijaga di bawah 3,5 persen, dengan catatan harga minyak tidak mengalami lonjakan signifikan dalam waktu dekat.
|Baca juga: Inilah Peraih CEO Award 2026 Media Asuransi
|Baca juga: Inilah Para Pemenang Unitlink Award 2026 Media Asuransi
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari mengatakan skenario harga minyak di kisaran US$80 per barel akan menjadi titik krusial terhadap pergerakan inflasi dalam jangka pendek.
“Jika nanti harga minyak rata-rata US$80 per barel, mungkin dalam sebulan ke depan, keadaan mulai normal dan harga minyak mulai turun lagi, maka menurut saya inflasi akan berada di bawah 3,5 persen,” ujar Pranjul, dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan tekanan yang dihadapi saat ini tidak hanya berasal dari sisi harga energi, tetapi juga ketersediaan pasokan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan guncangan pada berbagai sektor secara bersamaan.
“Karena ini bukan hanya tentang harga energi, tetapi juga tentang kuantitas energi,” ungkap Pranjul.
|Baca juga: Dirjen Kemenkeu Febrio Kacaribu dan Luky Alfirman Dicopot Purbaya, Ini Profilnya!
|Baca juga: Pembiayaan Bermasalah Industri Pindar Melonjak, Begini Penjelasan Bos OJK!
Menurutnya, dinamika pasokan energi akan berdampak luas terhadap sejumlah indikator ekonomi, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga neraca eksternal dan fiskal pemerintah.
Dalam skenario harga minyak stabil di US$80 per barel, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga inflasi tetap terkendali, salah satunya melalui kebijakan subsidi energi.
“Jadi, saya pikir angkanya akan di bawah 3,5 (persen). Dan salah satu alasannya adalah adanya subsidi energi yang memastikan harga tidak dinaikkan,” kata dia.
|Baca juga: Aset Baru Rp37 Triliun, UUS Permata Bank (BNLI) Genjot Segmen Ritel dan SME untuk Kesiapan Spin Off
|Baca juga: Bos BI Blak-blakan Ungkap Penyebab Dolar AS Tembus Rp17.300
Selain faktor energi, Pranjul menilai, pemerintah memiliki bantalan fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek. Hal ini didukung oleh komitmen menjaga inflasi sesuai target Bank Indonesia serta optimalisasi penerimaan negara.
“Ditambah lagi pemerintah memiliki dana yang tersimpan terutama pada dana Saldo Anggaran Lebih (SAL). Saya pikir batas fiskal tiga persen akan dipertahankan dalam jangka pendek,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
