Media Asuransi, JAKARTA – Proyeksi Bank Dunia atau World Bank yang memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi hanya lima persen pada 2026 mulai membuat industri perasuransian bersiap menghadapi tekanan.
Perlambatan tersebut dinilai jauh dari target pemerintah yang mematok pertumbuhan di kisaran 5,4 persen hingga enam persen. Merespons situasi itu, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menegaskan industri asuransi tidak bisa tinggal diam.
|Baca juga: Yakin IHSG Kembali Menguat, DBS: Kans Kita Masih Bagus!
|Baca juga: LPS Wanti-wanti Ancaman AI Colonialism di Industri Keuangan, Apa Itu?
“Sebagai industri perasuransian kita mengamati dinamika yang terjadi ini, antisipasi memang harus disiapkan khususnya berkenaan dengan proyeksi komersial,” ujar Yulius, kepada Media Asuransi, dikutip Rabu, 23 Juni 2026.
View this post on Instagram
Ia menyoroti perlunya kehati-hatian dalam menilai risiko kredit yang terikat pada polis asuransi di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian ini. “Di sisi lainnya kita juga berhati-hati dalam menilai risiko kredit yang juga dijaminkan ke polis asuransi,” imbuhnya.
|Baca juga: Ada Wacana Iuran BPJS Bakal Naik, Asuransi Swasta Justru Kecipratan Berkah?
|Baca juga: KB Bank (BBKP) Buka Suara soal PHK Ratusan Karyawan dan Penutupan Puluhan Kantor Cabang
Meski demikian, Yulius meminta pelaku industri untuk tidak panik menghadapi gejolak yang menurutnya bergerak cepat dan sulit diprediksi. “Namun dinamikanya luar biasa bahkan dalam waktu yang pendek jadi kita tidak boleh panik tapi tetap harus setia untuk prudent secara kebijakan underwriting,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

