Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak menampik salah satu peluang yang dapat dikembangkan dalam hal memperluas laju bisnis industri asuransi adalah asuransi gadget. Hal itu mengingat perangkat tersebut telah menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari masyarakat dan basis penggunanya semakin luas.
“Namun, besarnya pasar tidak serta-merta menjamin keberhasilan produk,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, dikutip dari jawaban tertulisnya, Kamis, 5 November 2026.
Menurutnya, industri asuransi perlu merancang perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, dengan premi yang terjangkau, manfaat yang jelas, proses klaim yang mudah, serta mekanisme pengelolaan risiko yang memadai.
|Baca juga: Pasar Keuangan Bergejolak, Prudential Indonesia Ungkap Perubahan Selera Nasabah Asuransi
Dengan pendekatan tersebut, asuransi gadget dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas kepemilikan asuransi, sekaligus meningkatkan literasi dan kepercayaan masyarakat terhadap industri perasuransian,” katanya.
|Baca juga: Hadapi Risiko Kian Kompleks, Bos Zurich Sebut Workforce Resilience Jadi Strategi Bisnis Jangka Panjang
Mengutip data KSSK, total aset industri asuransi per September 2026 mencapai Rp1.192,84 triliun atau tumbuh 0,98 persen secara tahunan (yoy). Secara umum, permodalan industri asuransi komersial masih memadai dan terjaga, dengan Risk Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa sebesar 471,95 persen.
Sedangkan RBC asuransi umum dan reasuransi sebesar 331,84 persen, jauh di atas ambang batas 120 persen. Di industri dana pensiun, total aset mencapai Rp1.721,91 triliun atau tumbuh 6,11 persen yoy, dengan aset dana pensiun program sukarela sebesar Rp410,97 triliun atau tumbuh 3,30 persen yoy.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
