Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) angkat bicara terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terpantau terus melemah dari waktu ke waktu. Bank sentral menyebut pergerakan rupiah dan mata uang kawasan masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah.
“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) juga meningkat,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea, dikutip dari pernyataan resminya, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menambahkan sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan US$ dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi. Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana.
|Baca juga: Transformasi Layanan Pupuk dan Peranan Asuransi Menjaga Ketahanan Petani
|Baca juga: Kredit BCA (BBCA) Tembus Rp1.063 Triliun per September 2026, Naik 12,6%
“Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan,” jelasnya.
Secara umum, dirinya menyatakan, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
“BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya,” tukasnya.
Lebih lanjut, Erwin menyatakan, langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

