Media Asuransi, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui master plan 2026-2030 telah menetapkan arah strategis jangka panjang. Langkah itu diambil untuk mewujudkan pasar modal Indonesia yang maju, inklusif, dan berdaya saing global.
“Dengan aspirasi menjadi salah satu dari 10 bursa terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi,” kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dalam Konferensi Pers RUPSLB BEI, di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia menambahkan aspirasi tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah target utama pada 2030 yaitu kapitalisasi pasar sebesar Rp30 ribu triliun, rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp31 triliun, 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pasar modal.
“Untuk mencapai target tersebut, Bursa Efek Indonesia telah menyusun strategi house yang terdiri atas empat pilar bisnis dengan dukungan lima enabler sebagai landasan dalam memperkuat pertumbuhan dan daya saing pasar modal Indonesia,” ujarnya.
|Baca juga: BEI Targetkan Rata-rata Nilai Transaksi Harian Tembus Rp21 Triliun di 2027, Naik 16,7%!
|Baca juga: BEI Bidik Laba Bersih Capai Rp563,9 Miliar dan Aset Tembus Rp9,12 Triliun di 2027
Lebih lanjut, Jeffrey mengatakan, BEI bersama SRO dengan dukungan OJK dan seluruh stakeholders pasar modal telah meluncurkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat kualitas pasar saham. Inisiatif ini terbagi dalam tiga kelompok. Pertama transparansi dan perlindungan investor.
|Baca juga: RUPSLB BEI Setujui Demutualisasi, Laba Ditahan, hingga Pembagian Dividen
|Baca juga: BI Beberkan Biang Kerok Penyebab Rupiah Terus Melemah
“Kami telah menyempurnakan metodologi high shareholding concentration, menerbitkan ketentuan baru papan pemantauan khusus, memperketat peraturan 1A tentang pencatatan saham untuk memperbaiki kualitas pencatatan. Kami juga meluncurkan IDX Green Equity Designation yang diberikan kepada tiga perusahaan tercatat,” ujarnya.
Kedua, likuiditas dan mekanisme perdagangan. Dalam hal ini, BEI menyempurnakan program liquidity provider, menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, dan meluncurkan intraday short selling secara bertahap.
“Untuk menjaga volatilitas, batas auto rejection bawah juga telah kami sesuaikan menjadi tujuh persen hingga akhir 2026,” jelasnya.
|Baca juga: MSIG Life (LIFE) Kejar Free Float 15%, Masih Kaji Sejumlah Opsi
|Baca juga: Laba Bank Jago (ARTO) Naik 50% Jadi Rp298 Miliar hingga September 2026
Ketiga, perluasan produk. BEI telah menerbitkan ETF emas. Melalui ETF emas, masyarakat kini dapat berinvestasi emas secara mudah dan teregulasi melalui bursa. Inisiatif ini adalah wujud dari fase fundamental reinvention dalam master plan Bursa Efek Indonesia 2026-2030 yang akan menjadi fondasi rencana kerja di masa mendatang.
|Baca juga: Dukung Perekonomian Nasional, BCA (BBCA) Komitmen Salurkan Kredit ke Berbagai Sektor Ekonomi
|Baca juga: Energi Andal, Ekonomi Tumbuh: Merajut Daya Saing RI dari Listrik
“Dan tentu ke depannya Bursa Efek Indonesia akan terus melanjutkan berbagai inisiatif pengembangan dan pendalaman pasar secara berkelanjutan. Seluruh upaya ini diarahkan untuk membangun pasar modal Indonesia yang semakin berkualitas, berdaya saing, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

