Media Asuransi, JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai. Adapun kurs rupiah pada siang ini terpantau melemah ke level Rp18.043 per dolar Amerika Serikat (AS).
“Sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN,” kata Destry, Kamis, 4 Juni 2026.
|Baca juga: OJK: Fenomena PHK Picu Pembayaran Manfaat di BPJS Ketenagakerjaan Meningkat
|Baca juga: Perbankan RI Mulai ‘Kena Getah’ dari Konflik Timur Tengah, Begini Penjelasan OJK!
Ia menambahkan BI akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
“Selain itu memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,” ucapnya.
|Baca juga: Prudential Indonesia: Penyakit Kanker dan Ginjal Kronis Dominasi Klaim Terbesar di 2025
|Baca juga: Prudential Tunggu Kepastian Pelaksanaan Integrasi BPJS Kesehatan dan Asuransi Komersial
Destry menyatakan intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
View this post on Instagram
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Destry, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
|Baca juga: Prudential Optimalkan AI untuk Tingkatkan Produktivitas Karyawan dan Manjakan Nasabah
|Baca juga: AdMedika Perkuat Strategi Kendalikan Lonjakan Biaya Kesehatan dan Dorong Penetrasi Asuransi
Dirinya menjelaskan kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di April mencapai sekitar 22,7 miliar vs full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Prudential Bidik Kota Tier 2 untuk Perluas Jangkauan Bisnis Asuransi
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44 persen. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

