1
1

Bukan Sekadar Saham Masuk Indeks, Mirae Asset Sekuritas Soroti Arah Keputusan MSCI

Mirae Asset - Office Education Bandung. | Foto: Mirae Asset

Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai perhatian investor menjelang pengumuman hasil review MSCI pada 12 Agustus 2026 tidak hanya akan tertuju pada potensi perubahan komposisi indeks. Akan tetapi juga pada arah kebijakan MSCI terhadap aksesibilitas dan investability pasar saham Indonesia.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor perlu mencermati apakah MSCI mulai memberikan sinyal pelonggaran terhadap perlakuan khusus atau pembekuan yang saat ini masih diterapkan terhadap saham Indonesia.

“Investor sebaiknya tidak hanya melihat index inclusion atau exclusion, tetapi terutama mencermati arah kebijakan MSCI terhadap investability dan market accessibility Indonesia,” ujar Rully, dalam keterangan resminya, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Rully, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah apakah MSCI mulai melonggarkan pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta membuka peluang penambahan atau migrasi saham Indonesia ke dalam indeks investable.

Selain itu, investor juga perlu mencermati pandangan MSCI terkait transparansi, free float, dan keterbukaan struktur kepemilikan saham. Menurut Rully, isu tersebut memiliki dampak yang lebih panjang karena berkaitan dengan kemampuan investor global dalam menilai free float dan membentuk harga saham secara wajar.

“Persoalan Indonesia bukan lagi sekadar masalah index rebalancing, tetapi menyangkut apakah investor global dapat menilai secara akurat free float dan membentuk harga secara wajar,” kata Rully.

Rully menilai keputusan MSCI kali ini juga penting untuk memberikan gambaran mengenai timeline normalisasi perlakuan terhadap Indonesia. Jika MSCI menilai reformasi yang dilakukan OJK dan BEI mulai kredibel, dampaknya dapat lebih positif bagi pasar dibandingkan dengan sekadar perubahan beberapa konstituen indeks.

“Sebaliknya, perpanjangan special treatment tanpa peta jalan yang jelas berpotensi membuat investor tetap menerapkan premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia,” ucapnya.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menjadi penopang pasar. Pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 tercatat 5,29 persen YoY, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 5,1 persen.

“Sementara kinerja emiten juga masih menunjukkan pertumbuhan pada semester I/2026,” urainya.

|Baca juga: Permata Bank Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,26% di 2026

|Baca juga: OJK dan Kementerian UMKM Dukung Penuh Pencalonan Destry Damayanti Sebagai Gubernur BI

Namun, menurutnya, perhatian pasar ke depan akan bergeser pada kemampuan Indonesia mempertahankan momentum tersebut di tengah mulai munculnya tanda-tanda perlambatan serta dampak kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan kredit.

“Faktor yang akan menggerakkan market adalah seberapa besar momentum ini dapat dipertahankan mengingat tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di ujung semester I/2026, ditambah kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan kredit usaha,” ujar Wilbert.

Ia menambahkan kondisi neraca eksternal dan fiskal juga tetap menjadi faktor penting karena akan memengaruhi persepsi terhadap credit rating Indonesia. Jika fundamental tersebut tetap terjaga, perhatian investor selanjutnya akan semakin tertuju pada keputusan MSCI menjelang November.

“Yang apabila memberikan sinyal positif berpotensi menjadi titik balik bagi arus modal asing ke pasar Indonesia,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bisnis Asuransi Umum Diprediksi Makin Moncer Sepanjang 2026
Next Post UOB Indonesia Hadirkan Manfaat Visa Infinite Privilege

Member Login

or