Media Asuransi, JAKARTA – Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan daya beli masyarakat tertopang oleh inflasi yang mereda menjadi 2,88 persen secara tahunan (YoY) pada Juli 2026, seiring keputusan pemerintah mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global.
“Namun demikian, strategi subsidi tersebut dinilai hanya bertahan dalam jangka pendek seiring ruang fiskal yang kian terbatas, sehingga tetap perlu diwaspadai pada semester kedua 2026,” kata Faisal, dalam Virtual Media Briefing – PIER Economic Review Kuartal II dan Semester I 2026, Senin, 10 Agustus 2026.
Penguatan investasi terlihat merata di hampir kategori aset, kecuali mesin dan perlengkapan. Investasi bangunan dan struktur naik jadi 6,61 persen YoY dari 5,29 persen YoY pada triwulan sebelumnya, didukung pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur pemerintah, termasuk pembangunan infrastruktur Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Di sisi lain, investasi mesin dan perlengkapan melambat tajam jadi 1,32 persen YoY dari 10,78 persen YoY, seiring pelemahan aktivitas manufaktur. Kondisi ini tercermin dari penurunan PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50,1 pada Maret 2026, sebelum kembali pulih ke level 50,2 pada Juli 2026.
|Baca juga: Kebutuhan Investasi RI Capai Rp8.705 Triliun, Pemerintah Andalkan Pasar Modal untuk Tutup Gap Pembiayaan
|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Pertumbuhan Ekonomi Tidak Lagi Bertumbuh pada Belanja Masyarakat
Secara sektoral, pertumbuhan pada kuartal II/2026 dipimpin oleh sektor jasa. Listrik dan Gas mencatat ekspansi tertinggi sebesar 10,81 persen YoY, berbalik dari kontraksi 0,99 persen YoY pada kuarta sebelumnya.
Di sisi lain, sektor primer masih tertekan, di mana Pertambangan dan Penggalian terkontraksi 1,6 4 persen YoY akibat keterlambatan persetujuan rencana kerja tambang dan gangguan operasional di Papua.
Industri Pengolahan (Manufaktur), sebagai kontributor terbesar PDB, turut melambat menjadi 4,52 persen YoY dari 5,04 persen YoY, meski beberapa subsektor berorientasi ekspor, seperti Tekstil dan Pakaian, serta Furnitur, justru mencatat penguatan.
“Sepanjang 1H26, sektor jasa konsisten menjadi motor pertumbuhan, dipimpin oleh Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh 11,83 persen YoY,” tukasnya.
Di sisi lain, Head of Industry and Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi menjelaskan, dari sisi manufaktur, pemulihan Purchasing Managers’ Index (PMI) ke 50,2 pada Juli 2026 menjadi sinyal positif setelah sempat terkontraksi pada Juni 2026.
“Kami juga mencermati sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti Tekstil dan Alas Kaki, yang justru menguat, sehingga membuka peluang diversifikasi mesin pertumbuhan industri di tengah tekanan pada sektor pertambangan,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
