Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2026, dengan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) ditetapkan sebesar nol persen.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat permodalan guna mendukung ekspansi bisnis, khususnya penyaluran kredit pada 2026.
|Baca juga: SIMGAJI Taspen Sudah Jangkau 96,52% Pemda hingga Maret 2026, Ini Rinciannya!
|Baca juga: Pemerintah dan Jasaraharja Putera Genjot Asuransi Pariwisata di Labuan Bajo
“Dividen payout-nya adalah nol persen, karena memang sesuai pertimbangan untuk meng-cover ekspansi kredit yang melebihi RKPB kita,” ujar Nixon, dalam konferensi pers usai RUPS di Jakarta, Kamis, 24 April 2026.
Ia menjelaskan laba yang dihasilkan sepanjang 2025 akan ditahan dan dialokasikan untuk memperkuat modal, terutama dalam rangka rencana pembelian portofolio kredit dari satu atau lebih lembaga keuangan.
Menurut Nixon, kebutuhan pendanaan untuk aksi korporasi tersebut cukup besar karena nilainya diperkirakan melebihi 20 persen dari ekuitas perseroan, sehingga berpotensi menekan rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) jika tidak diantisipasi sejak awal.
|Baca juga: HSBC Nilai Status Pasar Modal RI di MSCI Tetap Aman Meski Ada Tekanan Free Float
|Baca juga: Ajak Warga Yogyakarta Hidup Sehat, Asuransi Jasindo Gelar Satyaraga
“Karena memang modalnya dibutuhkan untuk pembelian portofolio tadi,” katanya.
Selain itu, keputusan tidak membagikan dividen juga diambil untuk menghindari penerbitan instrumen utang seperti additional tier 1 atau tier 2 capital yang memiliki beban bunga tinggi di tengah kondisi pasar yang bergejolak. Dengan menahan laba, BTN dapat mengurangi kebutuhan pendanaan eksternal sekaligus meningkatkan efisiensi biaya.
“Dengan membatalkan dividen payout atau dividen payout-nya menjadi nol persen maka kita tidak perlu lagi nantinya menerbitkan surat utang yang dianggap sebagai tier 1 atau tier 2 capital,” ujar Nixon.
|Baca juga: HSBC Ramal Inflasi Indonesia Bakal Tetap Rendah, Ini Syaratnya!
|Baca juga: KB Bank (BBKP) dan Lucky Mom Indonesia Perluas Kemitraan Strategis
Sebagai informasi, sebelumnya, manajemen sempat mempertimbangkan pembagian dividen di kisaran 20 persen hingga 30 persen. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mempertimbangkan kebutuhan ekspansi dan struktur permodalan perseroan.
BTN menilai, langkah ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan ke depan, seiring potensi peningkatan pendapatan bunga dan penurunan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dari portofolio yang akan diakuisisi.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada keterangan lebih lanjut dari manajemen BTN mengenai bank mana yang portofolio kreditnya akan di akuisisi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
