Media Asuransi, JAKARTA – Bertahun-tahun yang lalu, layanan wealth management identik dengan pertemuan tatap muka di cabang dan diskusi panjang dengan relationship manager. Nasabah yang ingin berinvestasi, meninjau portofolio, atau mendapatkan rekomendasi keuangan harus meluangkan waktu untuk bertemu langsung dengan bank.
Saat ini, digitalisasi memungkinkan layanan perbankan, termasuk wealth management menjadi lebih praktis dan relevan bagi generasi yang semakin muda dan melek teknologi. Pasalnya, menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Desember 2025, 54 persen dari demografi investor pasar modal saat ini berusia di bawah 30 tahun.
|Baca juga: Menkeu Sebut Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, Ungguli Sejumlah Negara G20
|Baca juga: Maybank (BNII) Siap Akuisisi Asuransi Etiqa, Bidik Kendali 51% Saham
OCBC melihat perubahan ke arah yang lebih digital tersebut tidak hanya mengubah cara nasabah bertransaksi, tetapi juga cara mereka mengelola dan mengembangkan aset. Pada kuartal pertama 2026, OCBC mencatatkan pertumbuhan total nilai transaksi melalui e-channel hingga 15 persen YoY.
Pengguna aktif individu internet banking dan OCBC Mobile meningkat sebesar delapan persen YoY, sedangkan pengguna aktif OCBC Business Mobile untuk nasabah korporasi mengalami peningkatan sebesar 20 persen YoY. Digitalisasi juga mendorong perubahan mendasar dalam industri wealth management.
Secara historis, wealth management identik dengan layanan premium yang diperuntukkan bagi kelompok High-Net-Worth Individuals (HNWI). Tingginya kebutuhan konsultasi personal dan proses yang masih manual membuat layanan ini lebih banyak dinikmati oleh kalangan tertentu.
View this post on Instagram
Namun, kemajuan teknologi telah menurunkan hambatan akses tersebut. Melalui digital onboarding, analisis profil risiko secara digital, akses informasi pasar secara real-time, hingga transaksi investasi melalui mobile banking, wealth management kini semakin mudah dijangkau oleh masyarakat yang sedang membangun kekayaan.
Kebutuhan wealth management kini semakin meluas seiring meningkatnya akses informasi, digitalisasi, dan literasi keuangan masyarakat. Hal ini terbukti dengan meningkatnya porsi transaksi wealth melalui kanal digital OCBC dari 30 persen pada 2024, menjadi 44 persen pada 2025.
|Baca juga: Bank DBS Indonesia Salurkan Rp6 Miliar untuk Pemulihan Bencana di Aceh dan Sumatra Barat
|Baca juga: Pemerintah Andalkan APBN Jadi Peredam Gejolak Ekonomi Global
Selain itu, jumlah transaksi obligasi melalui platform digital tumbuh 50 persen secara tahunan, dengan volume meningkat 89 persen secara tahunan. Bisnis wealth management OCBC mencatat pertumbuhan yang kuat.
Dalam periode 2022 hingga 2025, dana kelolaan atau Assets Under Management (AUM) wealth management tumbuh dengan CAGR 29 persen hingga mencapai lebih dari Rp120 triliun pada akhir 2025.
“Fenomena ini menunjukkan wealth management sedang mengalami pergeseran dari layanan yang eksklusif menjadi solusi finansial yang dapat diakses oleh lebih banyak segmen nasabah,” kata Direktur OCBC Johannes Husin, dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 18 Juni 2026.
Ke depan, lanjutnya, OCBC melihat wealth management akan menjadi semakin digital, personal, dan inklusif. Teknologi memungkinkan menghadirkan layanan lebih mudah diakses, sementara pemanfaatan data membantu memberikan solusi lebih relevan bagi kebutuhan setiap nasabah, tidak hanya nasabah affluent saja tetapi semua segmen.
“Bagi kami, wealth management bukan hanya tentang menyediakan produk investasi, tetapi bagaimana kami dapat berjalan berdampingan dengan nasabah dalam setiap tahap perjalanan finansial mereka,” tutup Johannes.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

