1
1

Eks Bos BPJS Kesehatan Sebut Kepercayaan Masyarakat Jadi Tantangan Industri Asuransi

Mantan Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti. | Foto: BPJS Kesehatan

Media Asuransi, JAKARTA – Mantan Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menilai kepercayaan masyarakat masih menjadi salah satu tantangan dalam perkembangan industri asuransi di Indonesia.

Ia menjelaskan berbagai persoalan yang terjadi di industri asuransi dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap perusahaan penyedia perlindungan keuangan tersebut. Pada konteks ini, Ali menegaskan, kepercayaan merupakan hal mendasar dalam bisnis asuransi.

Sebab, masyarakat membeli produk asuransi dengan harapan mendapatkan perlindungan ketika menghadapi risiko, termasuk risiko kesehatan. “Asuransi ini yang dijual adalah kepercayaan,” ujar Ali, di webinar bertajuk ‘Menua Sehat dan Berkualitas: Menyiapkan Kehidupan yang Aktif Bermakna, dan Terlindungi‘, Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap sistem perlindungan sosial dan asuransi sosial juga masih terbatas. Sebagian masyarakat justru lebih mengenal produk asuransi komersial dibandingkan dengan mekanisme jaminan sosial yang dijalankan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

|Baca juga: Hendra Godjali Resmi Jabat Presiden Komisaris Asuransi Dayin Mitra (ASDM)

“Yang memiliki pemahaman terhadap perlindungan sosial dan jaminan sosial asuransi sosial itu tidak banyak. Banyaknya masyarakat kita itu yang dia pahami asuransi komersial,” katanya.

Ali menjelaskan BPJS Kesehatan merupakan penyelenggara perlindungan dasar kesehatan masyarakat dengan prinsip gotong royong. Melalui sistem tersebut, peserta yang sehat turut membantu pembiayaan pelayanan kesehatan peserta yang sedang sakit.

|Baca juga: Tidak Penuhi 3 Syarat Ini, Perusahaan Asuransi Tak Bisa Pasarkan Asuransi Kesehatan dari OJK!

|Baca juga: OJK Catat Baru 31 Perusahaan Asuransi Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, Ini Updatenya!

Dia menilai prinsip tersebut menjadi salah satu kekuatan sistem jaminan kesehatan nasional. Bahkan, menurut Ali, masyarakat yang masuk kelompok miskin tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan tanpa harus membayar biaya pengobatan secara langsung selama berstatus sebagai peserta aktif.

“Sekarang orang miskin, kalau sakit, dilarang bayar, asalkan menjadi peserta BPJS aktif,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ali menyoroti masih adanya kecenderungan masyarakat yang kurang memanfaatkan layanan kesehatan primer. Sebagian masyarakat lebih memilih langsung mendatangi dokter spesialis atau rumah sakit ketika mengalami gangguan kesehatan.

“Banyaknya masyarakat kita itu yang dia pahami asuransi komersial dan tidak percaya pada layanan primer, maunya itu langsung ke spesialis, langsung ke rumah sakit di situ, sakit gitu,” jelasnya.

Menurut Ali, kondisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai sistem perlindungan kesehatan, termasuk manfaat asuransi sosial dan mekanisme pelayanan kesehatan berjenjang.

Dirinya juga menilai perusahaan asuransi komersial dan BPJS Kesehatan perlu membangun sinergi yang lebih baik. Pasalnya, kerja sama antara keduanya dinilai belum berjalan optimal, termasuk dalam penerapan mekanisme koordinasi manfaat atau Coordination of Benefit (CoB).

Lebih lanjut, dia menekankan, kepercayaan masyarakat perlu menjadi perhatian dalam pengembangan bisnis asuransi. Sebab, tanpa kepercayaan, pemahaman terhadap manfaat perlindungan asuransi akan sulit berkembang di tengah masyarakat.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Hendra Godjali Resmi Jabat Presiden Komisaris Asuransi Dayin Mitra (ASDM)
Next Post Penangkapan Jenderal Polri Beri Tambahan Tekanan ke IHSG

Member Login

or