Media Asuransi, JAKARTA – Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 memang masih mencatatkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan 5,3 persen secara tahunan.
Namun, ia menambahkan, kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap perlu dicermati karena kenaikannya turut didorong oleh stimulus fiskal, basis belanja pemerintah yang rendah, dan faktor musiman.
|Baca juga: Siap-siap, OJK Bidik Aturan New RBC Terbit Sebelum Akhir 2026!
|Baca juga: Paylater Makin Nempel di Gaya Hidup Anak Muda, Ini Kata OJK!
Menurut Novani, konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi di sisi pengeluaran, yakni 16,0 persen YoY, didorong pembayaran gaji ke-13, belanja pegawai, dan realisasi berbagai program pemerintah.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang merupakan komponen terbesar PDB justru melambat menjadi 5,1 persen YoY, sedangkan ekspor neto mengurangi pertumbuhan sebesar 0,8 poin persentase karena impor meningkat lebih cepat.
|Baca juga: Aon Tunjuk Eks Bos Zurich Jadi CEO untuk Indonesia
|Baca juga: Sequis Life Perkuat Kapasitas Peserta Sequis SHEPRENEUR Lewat Financial Check-Up dan Personal Branding
“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II masih terlihat kuat, tetapi sumber pertumbuhannya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik yang berkelanjutan,” ucapnya, dikutip dari keterangan resminya, Jumat, 7 Agustus 2026.
“Sejumlah faktor pendukung berasal dari belanja pemerintah yang bersifat temporer sehingga ruang penguatannya diperkirakan lebih terbatas pada semester kedua,” tambahnya.
Novani memperkirakan normalisasi belanja pemerintah setelah realisasi yang cukup besar pada semester pertama, ditambah masih lemahnya kontribusi ekspor, berpotensi menekan momentum pertumbuhan pada kuartal III/2026.
|Baca juga: OJK Klaim 83% Perusahaan Asuransi Sudah Penuhi Modal Minimum
|Baca juga: OJK Ungkap Persaingan Perbankan Berebut Dana Masyarakat Masih Ketat, Ini Alasannya!
Dengan kondisi tersebut, Mirae Asset memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 berpotensi melambat ke bawah 5,0 persen YoY jika tidak diimbangi faktor pendorong seperti penguatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih signifikan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
