Media Asuransi, JAKARTA – Kesenjangan keterwakilan perempuan di level direksi masih menjadi isu di industri jasa keuangan. Di tengah tingginya partisipasi perempuan di level manajerial, posisi puncak atau level direksi justru belum sepenuhnya mencerminkan kondisi tersebut.
Direktur Keuangan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) atau WOM Finance Cincin Lisa Hadi menilai fenomena ini biasanya lebih disebabkan oleh dinamika internal perusahaan, bukan karena bias gender.
“Perusahaan pada prinsipnya tidak melakukan pembatasan terkait gender, antara laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang secara karier di WOM Finance,” jelas Cincin, kepada Media Asuransi, dikutip Selasa, 28 April 2026.
|Baca juga: Inilah Peraih CEO Award 2026 Media Asuransi
|Baca juga: CASA Melonjak 40,6%, SMBC Indonesia Cetak Kinerja Solid di Awal 2026
|Baca juga: Isu Merger dengan MUFG Menyeruak, Begini Penjelasan Resmi Bank Danamon (BDMN)!
“Di sisi lain, kesenjangan yang terlihat pada level direksi ini dikarenakan dinamika pipeline kepemimpinan yang ada di perusahaan, namun perusahaan menilai hal ini tentu saja bukan disebabkan adanya hambatan berbasis gender,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, perusahaan tidak melihat adanya stagnasi karier perempuan di level manajerial. Justru, jumlah perempuan di posisi tersebut terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, mencerminkan terbukanya peluang karier yang berbasis pada kompetensi dan kinerja.
“WOM Finance menilai belum ada fenomena career plateau di perusahaan di mana perempuan yang menjabat di level manajerial setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga dapat dikatakan jenjang karier seluruh karyawan terbuka serta tidak terbatas dari gender tertentu dengan tetap memperhatikan kompetensi, potensi, dan kinerja setiap karyawan,” ujarnya.
|Baca juga: Astra International (ASII) Bakal Tebar Dividen Final Rp292 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya!
|Baca juga: APRDI Sebut Ruang Tumbuh Reksa Dana Masih Sangat Besar, Ini Alasannya!
|Baca juga: OJK Soroti Prospek Cerah Asuransi Kendaraan Listrik di Indonesia
Namun demikian, tantangan tetap muncul, terutama terkait faktor nonstruktural seperti preferensi lokasi kerja. Menurut Cincin, luasnya jaringan operasional perusahaan di berbagai daerah membuat sebagian karyawan perempuan, khususnya yang telah berkeluarga, cenderung mempertimbangkan stabilitas lokasi dalam menentukan karier.
“Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan saat ini adalah bukan pada adanya kesempatan dan kemauan, namun lebih kepada jaringan perusahaan yang menyebar di seluruh indonesia, sehingga karyawan dengan gender perempuan yang sudah berkeluarga cenderung untuk memilih berkarier dengan kota yang sama,” jelasnya.
Dalam konteks keberlanjutan, WOM Finance mengklaim telah menunjukkan komitmen terhadap prinsip kesetaraan gender melalui kerangka ESG. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, komposisi karyawan perempuan mencapai 34 persen, meningkat dari tahun sebelumnya.
|Baca juga: Bos OJK: Pasar Modal Berperan Strategis Dukung Pembiayaan Pembangunan RI
|Baca juga: Dharma Satya Nusantara (DSNG) Bukukan Laba Rp421 Miliar di Kuartal I/2026
Sementara itu, keterwakilan perempuan di level C-level, yang mencakup direksi dan komisaris, telah mencapai 44 persen atau mendekati komposisi seimbang. Cincin menilai perkembangan digitalisasi di industri jasa keuangan menjadi momentum positif bagi peningkatan peran perempuan.
Fleksibilitas kerja dan perubahan kebutuhan kompetensi dinilai membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk menembus posisi strategis. Ke depan, prospek karier perempuan di sektor ini dinilai semakin terbuka, dengan catatan adanya penguatan kompetensi utama seperti analytical thinking dan relationship building.
Perusahaan pun mendorong perempuan untuk aktif mengambil peluang, memperluas jaringan, serta mencari mentor guna mempercepat langkah menuju level direksi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
